Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
SURYATNO
Jika kita perhatikan dan kita amati secara sepintas saja, apa yang terjadi saat ini di tengah masyarakat muslimin, kita akan mendapatkan fenomena yang seharusnya menjadikan kita semua prihatin akan umat ini. Perhatian ini menjadikan kita mawas diri dan berusaha menjadikan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar kita tidak termasuk golongan mereka yang telah melampaui batas.
Sekian banyak bentuk kesyirikan,
kezaliman, kejahatan, kemaksiatan yang dengan begitu mudah kita temukan di
sekitar kita. Contohnya praktik kesyirikan sudah menjadi suatu yang biasa
dilakukan orang. Bahkan dukun, para normal, tukang ramal, ahli zodiak, dan
orang-orang semacam mereka, yang jelas-jelas melakukan praktik kesyirikan,
dianggap sebagai tokoh panutan dan memiliki tempat terhormat di tengah
masyarakat. Contoh lain di antara kaum muslimin sudah tidak bisa lagi
menghargai nyawa seseorang, tidak bisa menghargai harta orang lain, dan bahkan
tidak bisa menghargai kehormatan manusia. Padahal itu semua telah dilindungi
oleh Islam, dan tidak boleh diganggu. Semua itu terjadi karena mereka telah
meninggalkan Agama yang hanif ini, menuruti hawa nafsu, terpedaya dan tertipu
oleh bujuk rayu setan serta gemerlapnya kehidupan dunia.
Di sisi lain, di antara kaum
muslimin tidak lagi memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap saudaranya
sesama muslim, tidak peduli dengan kejadian dan kondisi yang ada, sehingga
segala bentuk kemungkaran semakin hari tumbuh subur, dan sebaliknya segala
bentuk kebaikan mulai terkikis dan asing di hadapan manusia. Orang-orang yang
ingin selalu konsisten dan istiqamah menjalankan agama dengan benar menjadi
asing di tengah masyarakatnya. Sikap keislaman yang baik terkesan batil dan
begitu juga sebaliknya. Yang sunah dan sesuai dengan contoh Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam dianggap sebagai sikap beragama yang ekstrim, dan
sebaliknya yang bid’ah dianggap sebagai jalan kebenaran sejati.
Semua itu adalah karena yang menjadi
tolok ukur beragama adalah perasaan dan keridhaan manusia, bukan keridhaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah memperingatkan kita semua dari sikap timpang semacam ini dalam
sabda beliau,.
“Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan
(mengacuhkan) kebencian manusia maka Allah mencukupkannya dari beban manusia,
dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan (mengesampingkan) kemurkaan
Allah maka Allah akan menguasakan manusia atas dirinya.” (HR. at-Tirmidzi
no. 2414 dan dishahihkan oleh al-Albani).
Sebegitu hebat kemungkaran yang
telah dianggap biasa di tengah masyarakat kita, sampai yang baik menjadi suatu
yan dianggap aneh. Orang yang rajin salat berjamaah aneh, kaum muslimah yang
mengenakan hijab sesuai syariat aneh, rajin ke tempat-tempat pengajian aneh,
laki-laki muslim yang memotong pakaiannya agar tidak isbal aneh, dan semua yang
sebenarnya adalah tepat sebagaimana yang diridhai Allah Subahanahu wa Ta’ala,
menjadi suatu yang aneh dan asing. Maka sungguh benar Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam manakala beliau bersabda,
“Islam mulanya
dianggap aneh (asing) dan akan kembali dianggap asing seperti semula. Maka
kabar gembira yang besar bagi orang-orang yang dianggap aneh (asing), yaitu,
orang-orang yang memperbaiki (menjalankan dengan baik) perkara-perkara sunahku
yang telah dirusak orang-orang setelahku.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Karenanya, merupakan tugas dan
kewajiban setiap muslim untuk selalu menjaga kemurnian agama, dengan senantiasa
menegakkan kebenaran dan mencegah setiap bentuk kemungkaran. Tentunya kita
pernah membaca dan mendengar permisalan yang pernah disampaikan oleh Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana beliau bersabda,
“Perumpamaan orang
yang teguh dalam menjalankan hukum-hukum Allah dan orang yang terjerumus di
dalamnya, adalah seperti sekelompok orang yang berada di dalam sebuah kapal,
ada yang mendapatkan tempat di atas melewati orang-orang yang di atas, dan ada
yang memperoleh tempat di bawah. Seadng yang di bawah jika mereka berkata,
‘Lebih baik kita melobangi tempat di bagian kita ini (bagian bawah), supaya
tidak mengganggu kawan-kawan kita yang di atas.’ Rasulullah bersabda, ‘Maka
jika mereka yang di atas membiarkan orang yang di bawah (melakukan hal itu),
pasti binasalah semua orang yang ada di dalam perahu tersebut, namun apabila
mereka mencegahnya mereka semua akan selamat’.” (HR. Al-Bukhari no. 2493).
Jika kita renungkan dengan dalam
perumpamaan agung yang disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
ini, yaitu seorang hamba Allah yang paling mengetahui tentang keadaan umatnya,
tentang sebab-sebab kemuliaan dan kerusakan yang akan terjadi pada mereka
berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kita akan
mendapatkan gambaran yang jelas tentang agungnya keutamaan mengajak orang
kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan jahat dan mungkar, yang kita kenal
dalam istilah amar ma’ruf nahi munkar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Kalian adalah umat yang terbaik yang
pernah dilahirkan untuk manusia, karena menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar,dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)
Al-Allamah As-Sa’di mengomentari
ayat ini dengan mengatakan, “Allah memuji umat ini sebagai umat yang paling
baik yang Allah ciptakan untuk umat manusia. Hal itu dikarenakan Allah
menyempurnakan Iman bagi diri mereka, yang dengan iman itu mereka melaksanakan
apa-apa yang diperintahkan Allah, dan menyempurnakan mereka untuk orang lain
dengan amar ma’ruf dan nahi munkar, yang mencakup mendakwahi manusia
untuk kembali kepada Allah. Dengan inilah maka umat Islam ini adalah umat
terbaik.” Dan sebaliknya Allah melaknat orang-orang yang kafir dari kalangan
ahli kitab, karena mereka membiarkan kemungkaran terjadi di tengah mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
”Telah dilaknat orang-orang kafir dari bani Israil
melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka
durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama ain tidak saling melarang
tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selali
mereka perbuat itu.” (Al-Ma’idah: 78-79)
Ini menunjukkan bahwa membiarkan
kemungkaran dan kemaksiatan adalah salah satu sifat orang-orang yang dilaknat
Allah.
Al-Allamah As-Sa’di berkata, setelah menafsirkan ayat ini,
“Hal itu (perbuatan mereka yang diam terhadap kemungkaran)
menunjukkan sikap meremehkan perintah Allah dan bahwasanya berbuat maksiat
kepada-Nya adalah suatu yang ringan bagi mereka. Seandainya mereka memiliki
rasa pengagungan kepada Rab mereka, niscaya mereka tidak akan menabrak hal-hal
yang diharamkan Allah, dan niscaya mereka tidak akan menyukai terhadap sesuatu
yang diharamkan Alah. Dan sesungguhnya diam terhadap kemungkaran –padahal mampu
untuk merubahnya- adalah sikap yang mendatangkan hukuman; karena mendiamkan
kemungkaran akan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang besar:
Di antaranya, hal itu menunjukkan
sikap meremehkan dan menganggap enteng kemaksiatan. Demikian juga hal itu akan
menumbukan keberanian bagi orang-orang yang gemar melakukan maksiat dan orang-orang
fasik untuk semakin berani melakukan maksiat, bahkan secara terang-terangan.
Apabila kemungkaran dibiarkan, maka
ilmu Agama akan semakin redup di tengah masyarakat dan kejahilan justru akan
semakin merajalela, karena apabila kemaksiatan demi kemaksiatan begitu saja
dilakukan orang, dan dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha untuk merubahnya,
maka masyarakat yang memang minim dengan ilmu agama akan menganggap itu semua
sebagai suatu yang bukan maksiat.
Mendiamkan maksiat boleh jadi akan
menyebabkan kemaksiatan menjadi suatu yang bagus dalam pandangan masyarakat
luas, sehingga sebagian masyarakat akan meniru perbuatan pelaku maksiat karena
menganggapnya sebagai sesuatu yang bagus.” (Dikutip dari Tafsir as-Sa’di secara
ringkas dan adaptasi, Ali Imran: 78-79).
Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi
munkar adalah kewaijban setiap muslim yang paling utama, yang akan menjadi
jalan keselamatan dan menghindarkan dari murka Allah, di dunia maupun di
akhirat. amar ma’ruf nahi munkar harus tegak, dalam segala tataran masyarakat,
baik sosial, individu, keluarga, masyarakat, nasional bahkan internasional.
Kita harus senantiasa ingat bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah
perintah Allah, yang mana Allah menjanjikan keberuntungan bagi kita bila
menegakkannya. Perhatikan Firman-Nya berikut ini,
“Dan hendaklah ada
di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyruh kepada
yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(Ali-Imran: 104)
Lebih dari itu, amar m’aruf nahi
munkar adalah salah satu di antara sifat-sifat asasi seorang mukmin sejati,
dan karenanya Allah menjanjikan rahmat bagi mereka. Allah Subhanahu wa
Ta’ala befirman,
“Dan orang-orang
mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang
lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar,
mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya.
Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah sesungguhnya Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar